Langsung ke konten utama

Tradisi Sasak: Makna yang terkadung dalam tradisi Sorong Serah Aji Krame

Sasak Tulen-Nyongkolan merupakan suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat suku Sasak ketika ada orang yang menikah. Tradisi nyongkolan sudah ada sejak dahulu. Pada umumnya, nyongkolan hanya dilakukan oleh kaum bangsawan, seperti yang dikatakan oleh Lalu Rabdi (tokoh masyarakat desa Padamara) “Nyongkolan pada umumnya hanya dilakukan oleh kaum bangsawan, jika ada wanita bangsawan menikah dengan orang biasa, tradisi sorong serah (nyongkolan) tidak dilakukan. Tetapi, jika pihak laki-laki dari kaum bangsawan menikahi wanita tidak bangsawan atau kedua pihak dari kaum bangsawan, maka tradisi sorong serah (nyongkolan) tetap dilakukan”.
Menurut Amaq Mar (tokoh masyarakat dusun Lembuak, Narmada), beliau juga mengatakan bahwa tradisi nyongkolan sudah ada sejak dahulu. Tradisi nyongkolan dilakukan oleh masyrakat Sasak pada saat ada orang yang menikah. Prosesi ini dilakukan untuk memperkenalkan pengantin kepada masyarakat dengan cara yang sedemikan rupa, tentunya dengan mengutamakan adat kesopanan, namun tidak menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Berangkat dari dua pernyataan di atas, maka dapat dikatakan bahwa nyongkolan merupakan sebuah tradisi yang mengandung nilai religi dan nilai kesopanan dalam proses pelaksanaannya. Tradisi sorong serah (nyongkolan) merupakan acara sakral, selain bertujuan untuk memperkenalkan pengantin kepada masyarakat luas, nyongkolan juga bertujuan untuk memberi tahu keluarga pihak wanita, bahwa anak gadisnya baik-baik saja setelah menikah dengan laki-laki pilihannya. Sehingga, pada saat nyongkolan berlangsung mempelai pria dan wanita dirias sedemikian rupa bak raja dan ratu dan diiringi oleh keluarga dari pihak laki-laki, wanita memakai kebaya (pakaian tradisional suku Sasak untuk wanita) dan laki-laki memakai tampet dan sapuq (pakaian tradisional suku Sasak untuk laki-laki).
Sapuq yang dikenakan oleh laki-laki bermakna bahwa Tuhan itu satu, yaitu Allah Swt. Sedangkan, kain songket yang dikenakan oleh laki-laki dipakai agak memanjang ke depan sampai menyentuh tanah bermakna bahwa kami hanya orang biasa dan mengaku sebagai hamba Allah yang diciptakan dari tanah.
Pengantin pria dan wanita diiringi oleh keluarga pihak laki-laki menuju kediaman pengantin wanita dengan diriringi oleh musik tradisional suku Sasak, yaitu gendang beleq. Sekitar 20 meter dari kediaman mempelai wanita, keluarga dari pihak wanita menunggu kedatangan mereka. Mereka disambut bak raja dan ratu yang datang bertamu, mempelai pria dan wanita dituntun oleh pihak wanita menuju singgasana yang telah disediakan, lengakap dengan buah-buahan dan pagar ayu.
Pada saat nyongkolan berlangsung, mempelai pria membawa sebuah keris dan kain putih. Keris dan kain putih tersebut akan diberikan kepada ayah kandung istrinya. Penyerahan benda itu bermakna bahwa seolah-olah si pria berkata kepada ayah istrinya “Jika aku menyakiti anak gadismu, maka bunuhlah aku dengan keris ini dan kafani aku dengan kain putih yang aku bawa ini”.
Sebagian orang menganggap bahwa nyongkolan, hanya sebagai hiburan semata, karena memang masih banyak orang/pemuda yang tidak tahu makna nyongkolan yang sesungguhnya. Pemuda zaman sekarang banyak yang menyalahgunakan tradisi nyongkolan. Tradisi ini tidak dilakukan sebagaimana mestinya, nyongkolan dijadikan sebagai acara hura-hura dan mabuk-mabukan. Oleh karena itu, penting bagi kita (pemuda-pemudi suku Sasak) untuk memperbaiki dan meneruskan tradisi nyongkolan ini sebagaimana mestinya.
Satu hal yang perlu digaris bawahi, bahwasanya pada saat nyongkolan berlangsung, pihak laki-laki datang dengan cara yang terhormat dan dengan nilai kesopanan yang menjujung tinggi. Demikan pula, pihak wanita akan menyambut kedatangan pihak laki-laki dengan cara yang terhormat. Saya sebagai pemuda masyarakat Sasak mengaku bangga dengan adat istiadat suku Sasak, khususnya adat nyongkolan.
Tradisi ini perlu dilestarikan karena nilai yang terkandung di dalamnya sangat sakral dan menjunjung tinggi nilai moral dan kesopanan. Untuk itu, mari kita tanamkan rasa bangga terhadap budaya yang kita miliki. Khususnya, bagi pemuda dan pemudi masyarakat Sasak, mari kita lestarikan warisan budaya dari nenek moyang kita. Sehingga, kelak kita bisa menceritakan dengan bangga kepada anak cucu kita bahwa inilah Sasak yang sesungguhnya, inilah budaya kita yang menjujung tinggi nilai agama dan kesopanan.
Jangan biarkan orang asing merebut warisan nenek moyang kita, merebut tradisi yang sudah kita miliki sejak dahulu. Orang asing akan merebut budaya kita melalui generasi penerus tradisi ini, secara perlahan-lahan mulai masuk dan merubah pola pikir kita sehingga pada akhirnya kita akan meningggalkan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Biakan orang asing hanya kagum terhadap budaya kita, tetapi tidak bisa mengambil dan merenggutnya dari kita, karena saya yakin masih banyak pemuda-pemudi Sasak yang peduli terhadap budaya yang mereka miliki. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan meneruskan dan mempertahan budaya kita.

Selamat membaca gaeeessss, trune dedare Sasak tulen………… J

Komentar

  1. Baru tau sekarang makasi infonya

    BalasHapus
  2. tradisi lombok ya, utk apa sih harus sorong serah knpa gak KUA aja langsung mbak 😙

    BalasHapus
  3. mantapp, teruskan menulis ya..

    BalasHapus
  4. bagaimana cara mlestarikan tradisi ini? agar adat lombok yg kita cintai ini tetap bertahan dan tdk tergeser oleh budaya barat yg kian berkmbang

    BalasHapus
    Balasan
    1. salah satu caranya adalah tetap belajar tentang budaya Sasak

      Hapus
  5. Soring serah aji kerame itu apa

    BalasHapus
  6. tingkatkan, biar budaya NTB bertahan hingga akhir dunia hehe

    BalasHapus
  7. adat nyongkolan itu harus ada disetiap prnikahan bgitu ya ?

    BalasHapus
  8. mulen sasak tulen neee hehe

    BalasHapus
  9. Sangat bermanfaat khususnya bagi pemuda pemudi yang belum tawu kebudayaan sasak dan tradisi tradisi lainnya

    BalasHapus
  10. sasak hnya ada dilombok

    BalasHapus
  11. aku mendukungmu NTBku

    BalasHapus
  12. ye mule ntan batur lombok haha 😂

    BalasHapus
  13. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PIAGAM GUMI SASAK: haru sekaligus bangga, akhirnya Sasak punya piagam sebagai cermin jati diri bangsa Sasak

          Sasak tulen - Dua tahun silam, tepatnya pada tanggal 26 Desember tahun 2015 merupakan hari yang bersejarah bagi masyarakat NTB, khususnya masyarakat Sasak. Para tetua dan tokoh masyarakat dari Sasak, Samawa dan Mbojo berkumpul di Museum NTB. Mereka membahas tentang kebudayaan. Perkumpulan ini dilatarbelakangi oleh banyaknya isu-isu negatif tentang kebudayaan Sasak. Orang-orang asing yang ingin mengahancurkan budaya Sasak, salah satunya melalui tulisan mereka tentang kebudayaan Sasak yang tidak sesuai dengan aslinya. Oleh karena itu, masyarakat Sasak mencetuskan Piagam Gumi Sasak sebagai sikap dan cermin jati diri bangsa Sasak. Berikut naskah Piagam Gumi Sasak: PIAGAM GUMI SASAK BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM      Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT, dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusisaan, melalui simbol...

Tradisi Sasak: BEGIBUNG

Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan bangsa, salah satunya ialah suku Sasak. Suku Sasak memiliki beragam tradisi yang unik. Salah satu tradisi tersebut adalah tradisi begibung. Tradisi begibung merupakan salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat suku Sasak. Tradisi ini dilakukan ketika ada acara begawe, syukuran dan lain-lain. Begibung dilakukan dengan cara menaruh nasi dan lauk pada name (nampan) atau pelepah pisang. Kemudian, nasi dan lauk tersebut dimakan oleh dua orang atau lebih dengan menggunakan tangan. Biasanya, makanan yang disajikan tersebut dimasak oleh banyak orang dan nikmati oleh banyak orang juga. Jadi,  begibung bisa diartikan sebagai acara makan bersama. Nilai yang bisa diambil dari tradisi ini adalah nilai kebersamaan. Di mana, orang-orang yang memakan makanan tersebut akan sama-sama merasakan enak atau tidak enaknya makanan yang sajikan. Nilai kebersamaan juga bisa dilihat dari proses kebersamaan saat memasak dan memakan makanan yang dis...